Separuh Waras


Oleh : Mutia Nasution
Waspada, 3 September 2017
Seseorang yang aku anggap biasa itu sedang menunggu di luar sana. Dia tengah menunggui kapan kewarasanku akan kembali, kapan aku yang buta ini bisa melihat kenyataan dan kapan aku akan melepaskannya? Adakah caraku keliru memandangnya?
***
                Aku masih setia duduk di sebuah cafe di perempatan jalan besar kota Medan yang hiruk pikuk ini. Seperti biasa dua benda penyejuk hati di tengah panasnya kota metropolitan ini. Ya apalagi kalau bukan Gadget dan Secangkir kopi khas kampung halaman nenekku yaitu Kopi Sipirok. Ahh! Nikmat sekali.
                Kring...!!!
                Sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponselku. Sungguh tak ingin kulihat lagi. Tampaknya aku lupa menghapus ia dari daftar kontak pribadiku, padahal ia telah seutuhnya kuhapus dari memori otakku.
                “Selamat Pagi Ti.. Kamu apa kabar, sudah sarapan? Maafkan aku atas postingan foto kemarin. Kamu tetap percaya sama aku kan? Aku janji setelah masalah ini selesai kita akan kembali bersama.”
                Demikian pesan pria pencabut kewarasanku pagi ini. Ahh andai kopi sipirok ini tidak enak, pasti sudah aku muntahkan saat ini juga. Sayangnya kopi ini begitu berharga untuk aku muntahkan hanya karena seonggok pesan tak berharga di mataku itu.
                Si pemberi harapan belaka. Ya. Agaknya itu adalah sebutan terhalus yang dapat aku berikan padanya saat ini. Si Pemberi harapan belaka yang menghilang ditelan janji. Apakah ia mengira bahwa aku ini lapangan? Dimana ia bebas berlari kemudian menghilang begitu saja? Sementara yang tertinggal hanya rayuan dan janji palsu semata.
                Jariku mulai gatal membalas pesan singkat miliknya. Baiklah akan kubalas dengan kalimat terbaik agar ia memahaminya.
                “Segeralah menghilang dan menjauh dari pandanganku. Sebab diriku bukan tempat bertualang hobi bermainmu.”
                Kirim!
                Ya.. Aku rasa kalimat barusan sudah sangat jelas. Tetapi agaknya terlalu panjang ya, mestinya aku penggal saja kalimatnya sampai kalimat pandanganku. Semoga saja ia jera dan berhenti menggangguku.
                Aku kembali menyeruput kopi lezat ini. Pandanganku menatap jauh ke arah langit biru yang ditemani gumpalan awan putih saling mengejar satu sama lain.
                Kapan terakhir kali aku menatap keindahan ini? Betapa meruginya Aku. Diberi sepasang mata yang dapat melihat segala keindahan ciptaan-Ny ini namun tak mampu menikmati dan mensyukurinya.
                Ya Tuhan, kemana sebenarnya kupergunakan selama ini akal dan mataku? Mengapa semua begitu gelap tak berdaya tiga tahun terakhir ini? Apakah dia yang membutakanku? Ataukah memang aku yang lemah dibutakan oleh cinta?
                Kring...!!!
                Sebuah pesan kembali masuk ke ponselku. Aku telah malas membuka pesan itu karena kukira pesan tersebut pastilah darinya. Tetapi setelah kulihat kembali. Ohh syukurlah itu pesan dari salah seorang tema yang mengatakan kalau ia telah mentransfer uang padaku, syukurlah.
                Perlahan namun pasti kondisi finansialku pulih kembali. Jangan tanyakan apa yang terjadi. Sebab Akupun tak tahu pasti kemana nominal-nominal itu menghilang dari saldoku.
                Bukan hanya jiwa dan ragaku yang tak terkendali kala bersamanya, tapi juga keuanganku. Ya kembali lagi, karena cinta. Aku yang buta akan cinta dengan mudahnya mengiyakan kepergian tiap nominal dari saldoku berpindah begitu saja padanya bila ia sudah meminta. Bukan karena ia seorang ahli hipnotis. Aku pun sadar memberikan semua itu padanya.
                Rasa sayang dan ibalah penyebabnya. Aku yang tak tega melihat wajah muramnya, ia yang memelas sembari meraba bahuku membuatku luluh. Tak perlu ilmu hipnotis, begitu mudah membuatku takluk di bawah telunjuknya.
                Haruskan aku meminta semua uang dan barang yang kuberikan padanya? Akupun tak ingin dianggap sebagai wanita kejam perampas barang yang telah diberikan. Ya, sudah aku ikhlaskan saja.
                Aku menyantap kue bika Ambon pendamping kopi yang baru saja aku pesan. Salah satu oleh-oleh khas kota Medan ini memang tiada duanya. Inilah yang membuatku betah berlama-lama nongkrong di sini. Tidak cocok memang bila ingin mencari keheningan di perempatan jalan raya begini, tapi beginilah aku. Kitalah yang menciptakan suasana kedamaian pada diri sendiri bukan? Meski berada di hutan tersepi sekalipun tapi hati masih diliputi kekacauan tetap saja tak akan mendapat ketenangan.
                Brum...brummmmm...brum!!!
                Suara motor kendaraan yang begitu terhapal di kepalaku. Aku menoleh  ke arah suara tersebut. Ohh syukurlah aku kira itu suara motor si pemberi harapan belaka ternyata bukan.
                Dua sejoli yang terlihat dimabuk asmara turun bergandengan tangan menuju cafe yang sama tempatku berada. Tangan sang pria tiada henti memegang erat tangan sang ratu hatinya itu. Sesekali ia membelai rambut ikal sang kekasih dan sesekali tangan itu berpindah ke pinggul. Tak lupa tawa renyah di tiap anak tangga yang mereka naiki. Serasa dunia milik mereka berdua saja dan yang
lainnya mengontrak.
                Aku menggelengkan kepala. Seujung kukupun tiada rasa iri akan kemesraan yang mereka tunjukkan pada dunia itu.
                Ya kenapa harus iri? Toh aku sudah lebih dahulu merasainya selama tiga tahun malah. Justru aku khawatir wanita tadi akan mendapati hal yang sama sepertiku. Dicampakkan begitu saja setelah disanjung setinggi langit, yang tertinggal hanya perasaan bersalah, berdosa penuh hina dina. Andai iman tak mengimbangi mungkin  nasibku sudah serupa dengan kisah mahasiswa di koran yang aku baca ini. Mahasiswi tersebut ditemukan tewas bunuh diri di kamar kostnya.
                Ahh... betapa kasihannya nasib wanita zaman sekarang. Segala pengorbanan jiwa dan raga mereka dibalas dengan sejumput kalimat yang pastinya tak ingin berujung dengan kematian, pembunuhan, sakit, dan sebagainya.
                Kembali lagi. Aku harus bersyukur masih dapat bernafas hingga detik ini. Bila kuingat kebodohanku mengejar ia hingga ke seberang provinsi sana hanya agar ia menarik kembali kata-katanya untuk berpisah. Meneteskan banyak air mata agar ia tak memilih wanita itu dan yaa.. jutaan nominal yang telah aku hamburkan untuk keperluannya.
                Sekali lagi. Iman dan ketakwaanlah yang masih menopang kewarasanku hingga saat ini. Banyak membaca buku motivasi dan lebih mendekatkan diri pada-Nya adalah obat termujarab yang bisa aku lakukan saat ini.
                Bila aku kilas balik, sungguh.. sungguh tiada guna menjalin sebuah hubungan tanpa label halal. Sejatinya hanya merugikan diriku saja. Aku tak akan mengatakan ini berlaku bagi semua wanita tapi bagiku itulah yang aku rasakan.
                Tidak lagi... Aku tak mau lagi menjadi penjaga jodoh orang lain. Sudah berapa jodoh orang lain yang aku jaga? Yang aku beri makan. Kasih sayang dan cinta namun berujung pergi. Ohh... betapa separuh kewarasanku hilang dibutakan cinta yang tertutup logika. Mestinya aku mengisi tiap hariku dengan kegiatan positif. Bukannya kegiatan bermesraan dengan jodoh orang lain.
                Salah seorang sahabat yang aku ceritakan mengatakan. Aku menjadi begitu bijak bila jomblo begini. Aku juga disebt Ustadzah dadakan dan sebagainya.
                Aku tak menapik segala respon mereka. Aku balas saja dengan senyuman dan pembuktian kedepan. Aku yakin seseorang di luar sana tengah menungguiku dengan penuh kesabaran. Menunggui kaan aku kembali “waras” dan siap untuk dilamar oehnya. Sungguh terdengar seperti lelucon, tapi aku meyakini itu.
                “Bang minta bonnya!” Ucapku pada salah seorang pegawai.
                Aku memberikan sejumlah uang dan berlalu meninggalkan cafe itu. Aku harap tak hanya meninggalkan bekas minuman dan makananku disana tapi juga bekas kenangan masa lalu yang ingin aku kubur dalam-dalam.
***
Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Semester 3, Libi Unimed
Cerpen dapat dilihat di

http://epaper.waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&sectionid=5&id=2977&bsb_midx=0

Komentar

Postingan Populer