Bersama Ibu
Oleh : Makanuddin
Republika, 10/09/2017
Nagib tak menghiraukan
berkali-kali malaikt meminta menuruti keinginannya. Hanya ia dalam kesedihan
memandangi ibunya yang sedang ditarik oleh beberapa malaikat menjauh dari
lapangan perkumpulan mereka.
“Saya
biar di sini saja, malaikat,” pintnya.
“Kamu
harus menuruti permintaanku,” sarannya penuh harap.
“Tidak,
Malaikat. Di sini saja.” Ia masih dalam kesedihan.
Malaikat
terheran keengganannya menuruti perintah. Tanpa menghiraukan pandangan pemuda
itu ke seorang perempuan berusia lima puluhan tahun yang sedang ikut antre
menuju sebuah ruang. “Mengapa kamu tidak menerima keinginanku, Nagib?”
Ia
mengangkat kepalanya. Ibunya masih terlihat di antara yang lain. Berdesakkan
digiring ke ruang kegelapan. Tanpa memedulikan perkataan malaikat, ia berkata,
“Ibuku, Malaikat. Ibuku.”
Tanpa
mengerti, ia bertanya, “Ada apa dengan ibumu?”
“Ibu
saya sedang digiring dalam langkah yang lelah. Kesedihannya semakin bertambah
yang menyesakkan napas.”
Ia
menoleh. Tidak menghiraukan ibu yang dimaksud. “Biarkan! Mereka sudah mendapat
tempat masing-masing.”
Ia
tidak bisa membendung kesedihannya. Mengingat ibu yang penuh pengorbanan,
mengasuh, dan mendidiknya. Ibu akan segera memintanya rapi-rapi bila pagi
datang. Tanpa terbebani, dengan sabar, ibunya segera membuka pintu kamar,
mendekati. “Ibu akan mengurus pekerjaan rumah, Na. Bangun ya.
Ia
hanya memandangi ibunya yang dalam lelah setiap hari mengurus rumah. “Kalau
kamu butuh Ibu, panggil ya, Nak.”
Lalu
setelah Ibu meninggalkannya, ia segera bangkit dari kasur menemani Ibu bekerja
yang ia mampu. Ibu juga menyarikan lembaga pendidikan begitu ia sudah menginjak
tahun masuk sekolah. Sang ibu harus keliling mencari tempat belajar untuknya.
Sampai SMA ibunya juga harus keliling daerah mencari lembaga yang layak.
“Sama
saja, Bu, semua lembaga sama,” tegas Ayah. Tapi, ia tak memedulikan pertarungan
kata kedua orang tuanya itu.
“Tidak
begitu juga, Pak,” tukasnya segera. “Berbeda yang mengurusnya berbeda juga
model dan kualitasnya.”
“Bapak
diam. Seakan menerima keinginan Ibu. Lalu menoleh kepadanya, “Kau turuti ibumu,
Nagib.”
Meski
keinginan berbeda, tapi Ibu lebih teliti. Setiap pagi Ayah meninggalkan mereka
akan bekerja. Ibu bertanggung jawab di rumah. Termasuk mengurus dan
membesarkannya. Ibu yang lebih mengerti keinginannya. Maka, ibunya siap
menemani, mengerahkan keinginannya. Hingga dewasa. Tapi, wanita itu tak banyak
menuruti. Bapak lebih banyak mengalah bila bicara soal rumah dan pengasuhan..
“Saya
tidak akan menerima tawaran ke surga, Malaikat,” tegasnya lagi. Ia masih memandangi
ibunya di antara sekerumunan yang lainnya digiring oleh beberapa malaikat.
“Banyak
manusia menginginkan ke surga, Nagib.”
Ia
diam, tapi, dalam kesedihan.
“Tapi,
kamu tidak mau.”
Ia
masih diam. Tidak menghiraukannya. Tapi, pandangannya ke arah Ibu. Malaikat tak
memedulikan arah pandangannya. Memastikan keinginannya tetap ke surga, kembali
ia memintanya, “Mari bersama kami.”
Lalu
pandangannya ke arah jalan yang terbentang luas dengan permukaannya yang bagus
didampingi sungai jernih yang mengalir. Suasana cerah bercahaya di antara
rindang pepohonan yang saling merapat. Meneduhi jalan yang tanpa cacat setitik
pun.
Burung-burung
yang indah memesona. Berlompatan di antara dahan-dahan. Di antara butir-butir
buah menggoda. Tapi ia tetap tidak menerima. Hanya ingin Ibu tetap bersamanya.
Melintasi jalan yang nyaman itu. “Tidak Malaikat. Saya ingin bersama Ibu.”
Malaikat
diam. Memandanginya lekat-lekat. Setelah memandangi jalan yang ditunjukkan
malaikat, ia menoleh ke ibunya. Semakin menjauh. “Saya ingin Ibu menyertai
saya, Malaikat.”
Ia
tidak segera menjawa. Menyambut kata-kata yang begitu berkeinginan
menyelamatkan ibunya. "Silakan! Temui ibumu.”
Ia
segera menemui ibunya yang sedang melintasi jalan gelap. Permukaan jalan yang
tak bagus, penuh kesulitan. Tapi, ia akan meminta kepada malaikan yang mengawal
Ibu agar bisa membawanya. Namun, sebelum langkahnya menjauh, malaikat pertama
yang bersamanya menyarankan, “Kamu ajak ibumu ke sini.” Ia menoleh. Lagi ia
mengangguk. Bahagia.
Ia
mengerti ibunya akan bahagia bersamanya ke tempat yang akan ia masuki nanti.
Sudah terlihat dari lapangan itu keindahan. Sejuk dan nyaman. Tak pernah
sebelumnya ia mendapatkan suasanya sememesona itu. Ia tak akan menerima siapa
pun yang menawarkan, bahkan memaksanya tinggal tanpa bersama Ibu. Tak mungkin
ia sendiri sementara ibunya dalam kesulitan. Maka, meski berkali malaikat
memintanya, ia tak akan menerima.
Ia
buru-buru mengayunkan langkahnya. Menemui ibunya yang dikawal ketat para
malaikat. “Ibu!” serunya.
Ibunya
tak menoleh. Masih terus berjala, tapi dalam lemah. Ia melihat tubuhnya banjir
keringat. Tak henti-henti. Tubuhnya bagaikan pancuran air yang mengucur.
Sebagaimana ibunya, ia pun melalui jalan yang menyulitkan. Lalu samar mendapati
remang, cahaya yang samar. Lalu kembali memnaggil Ibunya, “Ibu....”
Ia tak
mengerti. Ibunya tidak mendengar atau memang tidak menghiraukannya. Malaikat
terus menggiring ibunya. Melihatnya ia merasa terpukul, sebagaimana ia menemani
Ibu ketika sakit. Tak ada yang mengarahkan hidupnya. Kau keluar saja, Nak,
mencari makan yang baik-baik, pinta ibunya ketika ia kesulitan harus melayani
kebutuhan anaknya. Tapi, meski harus ia lakukan, ia tidak berkesempatan hanya
ia tidak bisa meninggalkan ibunya lebih lama sendiri.
Pikirannya
tidak tenang ketika sakit ibunya semakin parah. Doa dengan bacakan ayat-ayat
Al-Qur’an ia bacakan di hadapan ibunya setiap waktu, setiap kesempatan. Hanya
ingin ibunya sembuh . Tapi, kali ini ia melihat ibunya sangat lelah. Apalagi
dalam tempat sekelam itu yang sangat mencekam, memedihkan pastinya.
Lebih
pedih waktu ia melihat ibunya dikurung sakit di dunia. Tak kuat menahan rasa
iba, sekuatnya ia berlari meski dalam kesulitan langkah. “Malaikat.... Ibu.
Ibuku.” Ia terus mendekati ibunya.
Malaikat
menoleh. “Mengapa?” tanyanya,
“Saya
ingin mengajak Ibu.” Ia sudah mendekat, tapi masih melangkah mengikutinya. Ke
mana malaikat menggiring mereka.
“Kamu
sendiri saja.”
‘Tidak
mungkin saya sendiri”
“Lalu,
kenapa?”
“Saya ingin
bersama Ibu.”
“Tapi,
ibumu bukan ke surga.”
Ia,
mengangguk. “Ya, Malaikat, tapi saya ingin mengajak Ibu.”
Malaikat
mempertemukan sang ibu bersama anak yang dilahirkannya. “Silakan ajak ibumu,”
kata malaikat. Lalu ia meninggalkan keduanya. Sang anak segera membawa ibunya.
Sembari terus menggandeng ibunya yang masih lelah, ia terus berjalan. Namun
suasana sudah lebih cerah. Tidak seperti sebelumnya. Dalam samar. Ia bahagia
seperti suasana yang ia lalui. Ibunya pun terlihat nyaman.
“Ibu
diajak mereka, Nak. Berjalan dalam langkah yang berat,” keluhnya.
“Ibu tidak
bisa menolak ajakannya?”
“Sulit.
Tidak pernah bisa.”
Ia
terus melangkah akan menemui malaikat pertama, “Ibu akan bersama saya.”
“Ke
mana, Nak?”
“Ke
surga, Bu.”
Ia terkejut.
“Ke surga?” seakan tak percaya perkataan Nagib.
“Ya,
surga Ibu.”
“Surga
kamu juga, Nak.” Ia semakin bahagia. Mereka terus melangkah.
“Cepat!”
seru malaikat pertama yang mengizinkannya menemui ibu yang sedang digiring
menuju kegelapan.
Lalu ia
segera mendekatinya, “Lambatkan saja langkah kita, Nak.” Ibunya masih nampak
lelah. Tapi, bahagia mendapati suasana yang cerah dan nyaman. “Tegarkan, Bu.”
Ia
berusaha mengajak ibunya dalam raut bahagia. Tapi, panas tubuh membuatnya masih
dalam diam yang melelahkan. Menoleh ke ibunya di sebelah yang masih termenung.
Lalu memandangi Nagib. “Ini ibumu?”
“Ya,
Malaikat. Ini ibu saya.”
Malaikat
tak ingin bicara. Ia mengerti keinginannyaa segera ke surga bersama ibunya.
Lalu menoleh ke jalan yang cerah itu, ke ujung jalan di muka tempat yang mulia.
Bercahaya terang. Lalu pandangan Nagib mengikuti arah pandangan malaikat ke
sebuah tempat yang sejuk itu. Pohon-pohon rindang dan menawan yang tak pernah
ia lihat. Lalu malaikat menoleh kepadanya,” Silakan kau ajak ibumu.”
Makanudin pernah belajar di pesantren
al-wardayani warudoyong, Sukabumi.Kini selain menulis sehari-hari ia mengajar
di lingkungan Bekasi Kabupaten.
https://epaper.republika.co.id/
https://epaper.republika.co.id/

Komentar
Posting Komentar