Ingatan Ara
Oleh Dewi Ria Utari
Jawa Pos, 10/09/2017
Aku
sering mendapati bahwa kenangan kita tentang seseorang seringkali hanya terpaut
pada satu dua kejadian yang dengan keberuntungan yang menyertainya, bertengger
dengan sukses di salah satu sel-sel kelabu otak kita. Misalnya , ingatan Imron,
tetanggaku, tentang anjing masa kecilnya, selalu tertuju pada suatu kejadian
ketika anjing Rottweiler miliknya itu kedapatan mengendus-endus pantat Marina,
anak Pak Rosyid, pedagang kain gorden, yang suatu hari datang hendak mengantar
contoh kain gorden untuk ibunya Imron. Ia tak akan pernah lupa kejadian yang
sudah terjadi saat ia masih SMP itu, meski sekarang Imron sudah berusia 40-an
tahun, karena ketika itu Marina menjerit-jerit sekencang-kencangnya dan
langsung memeluk Imron seerat-eratnya yang membuat Imron merasa mendapatkan
hadiah lotre SDSB. Cuma adegan itu yang pernah dimilikinya waktu SMP. Tak
diingatnya sama sekali bahwa Riko pernah berjasa menggigit seorang pencuri yang
mencoba mencongkel pintu depan rumahnya.
Kegelisahanku
pada ingatan selalu muncul setiap akhir tahun, setiap kali aku merasa terpaksa
untuk pulang ke rumah, dan dipaksa untuk mengingat siapa saja teman-temanku
dulu. Ibuku paling rajin untuk memberi tahu tentang si A dab si B atau si C
yang katanya dulu teman mainku. Sementara aku hanya bisa berpura-pura menjawab “Oh ya?” atau “begitu tho?” sambil
terus berpura-pura sekuat tenaga untuk terlihat antusias dan ingat akan
nama-nama yang disebutkan ibuku. Dan biasanya setelah itu aku jadi kelelahan
nggak ada juntrungnya karena berpura-pura itu melelahkan sekali. Mulut harus
menyunggingkan senyum terus-menerus, dan mata harus menyiratkan sedikit
semangat dan keingintahuan. Padahal sumpah setengah mati, jangankan ingin tahu,
ingat pun tidak sama sekali.
Namun
di antara teman-temanku saat aku bersekolah SMP dan SMA, yang masih kuingat adalah
Ara. Aku satu sekolah dengannya sejak SMP dan SMA. Untuk dia, siapa pun yang
pernah bersekolah dengannya pastilah tak sulit untuk mengingatnya. Ara melekat
erat dalam ingatan teman-teman sekolahnya karena ia wangi, ayu, dan kemayu.
Proporsi wajah dan tubuhnya seimbang. Ia tak terlalu tinggi pun tak terlalu
pendek. Sehingga untuk lelaki yang tak terlalu tinggi atau sudah tinggi
sekalipun, tinggi badan Ara bukanlah ancaman untuk tampak sepadan jika berjalan
bersamanya.
Paras
Ara bisa dikatakan manis, tak terlalu cantik sangat, sehingga tiak terlalu
membuat murid-murid pria di sekola merasa terlalu minder untuk berusaha
mendekatinya. Karena faktor-faktor itulah Ara populer di sekolah. Ia manis,
supel, baik kepada siapa pun, sehingga ia tidak pilih-pilih teman.
Bagaimanapun,
pada usia remaja, rasa-rasanya akan lebih aman sentausa dan bahagia senantiasa
jika kita bisa menempatkan diri untuk disukai banyak orang. Meski untuk itu
kita tak bisa menjadi diri sendiri. Namun pada saat usia itu, kita kan tak pernah
tahu definisi diri sendiri itu seperti apa. Jadi kupikir wajar saja jika
orang-orang seperti Ara memilih untuk bisa menempatkan dirinya diidolai banyak
orang. Toh, dengan demikian, Ara terus diingat siapa pun hingga bertahun-tahun
kemudian.
Sayangnya
itu berkebalikan dengan Ara sendiri. Suatu kali saat bertemu dengan seorang
teman masa SMA, ia bercerita bahwa Ara hilang ingatan. Ia tak lagi bisa diajak
bicara dengan nalar dan wajar. Lebih
suka bengong, melamun, dan senyum-senyum sendiri . Ingatannya tentang
teman-temannya pun memudar. Ibunya seringkali harus mengingatkannya tentang
siapa mereka-mereka yang mengunjunginya. Makin hari, Ara makin susah diajak
berkomunikasi. Dan karena faktor itulah, keluarganya kemudian mulai sulit menerima kunjungan dari teman-teman Ara.
Mungkin lama-lama ibunya capek untuk mengingatkan Ara tentang tamu-tamunya.
Aku
tak habis pikir bagaimana masa-masa kegemilangan dalam hidupnya bisa ia lupakan
begitu saja. Tidakkah ia ingat, mungkin beberapa teman pria yan mengejarnya
begitu rupa, merayunya dengan surat penuh puja dan puji, atau ajakan malam
mingguan di alun-alun kota. Masa sih tidak ada satu dua yang nyantol sekalipun.
Bukankah pengalaman yang diidolai itu sudah sepantasnya diingat hingga kapan
pun.
Pertanyaanku
selanjutnya sama seperti teman-teman Ara yang baru saja dikabari bahwa ia
hilang ingatan. “Apa penyebabnya?” Nah, untuk jawaban ini tak ada yang pasti.
Banyak versi jawaban. Dari diguna-gunain orang, putus cinta sehingga patah hati
berat, hingga masalah pekerjaan. Apa pun jawabannya, semua serba meragukan.
Intinya, tak ada salah satu temanku yang mengetahui penyebabnya.
Barulah
karena seolah-olah merasa menemukan petualangan baru, aku memutuskan pulang ke
kotaku menjelang akhir tahun. Padahal biasanya selama lima tahun terakhir, aku
sudah mulai banyak alasan untuk tak pulang. Jika ibuku merengek menginginkan
aku pulang, aku biasanya akan memilih untuk memberinya uang dan memintanya
untuk mengunjungiku. Demikianlah, akhirnya karena penasaran, aku tiba di rumah,
sepekan sebelum tahun baru. Setelah dua hari memenuhi permintaan ibuku untuk
menemaninya pergi ke sana sini, aku akhirnya bisa mengajak salah satu teman
untuk mengunjungi Ara. Jika dulu mungkin aku akan bingung memakai baju apa dan
sibuk mematut diri di depan cermin supaya terlihat tampan di depan Ara, kini
aku tak melakukan persiapan apa pun. Toh orang yang akan kutemui belum pasti
mengingatku.
Dengan
membonceng sepeda motor yang dikendarai Hardi, temanku, tak butuh waktu lebih
dari 15 menit untuk tiba di rumah Ara. Setelah memarkirkan motor di pekarangan
rumahnya, kami berdua melangkah masuk ke teras dan mngetuk pintu depan. Tak
ala, terdengar suara langkah mendekat dari dalam rumah, dan pintu pun dibuka.
Ternyata ibunya Ara. Ia mempersilakan kami berdua duduk di teras begitu Hardi
memperkenalkan kami sebagai teman SMA Ara. Setelah mengingatkan kami akan
kondisi Ara, ia masuk ke dalam lagi untuk memanggilkan ankanya. Sambil
berpandangan tanpa kata-kata, aku dan Hardi hanya bisa berharap-harap cemas,
peristiwa seperti apa yang akan muncul di hadapan kami dalam beberapa menit
lagi.
Ara
muncul dengan sedikit gamang. Ia berdiri sejenak di ambang pintu dan mengamati
kami berdua dengan tatapan cemas. Ibunya yang ikut berdiri di sebelahnya
kemudian menyebutkan nama kami berdua dan mengingatkan Ara bahwa kami dulu
adalah teman sekelasnya. Ara hanya
mengangguk pelan. Mungkin sepelan kerja ingatannya.
Beberapa
menit kemudian, Ara sudah duduk di hadapan kami, dan ibunya masuk lagi ke dalam
rumah. Aku coba menanyakan kabarnya, sekaligus memecahkan kekakuan suasana,
karena Hardi sendiri ternyata memilih diam saja memandangi Ara yang memang
terlihat melantur.
“Mungkin
kamu tidak ingat aku, Ara. Tapi aku dan Hardi dulu satu SMA denganmu. Sedangkan
aku sebenarnya sudah satu sekolah denganmu sejak SMP.” Ujarku dengan intonasi
yang penuh tekanan dan tempo bicara yang lambat seolah-olah Ara tuli dan dungu.
Barulah setelah Hardi menyepak pelan kakiku, aku mulai tersadar akan cara
bicaraku.
“Apa
kabarmu Kala?” tanya Ara membuatku dan Hardi terperanjat. Kami tak menyangka ia
melihat ke arahku dan bertanya dengan kewajaran yang penuh. Aku menjawab dengan
sedikit gugup. “Baik. Kamu masih ingat aku ya. Ara,” tanyaku pelan seolah tak
percaya. Ara mengangguk sambil tersenyum.
Ia
kemudian memandang Hardi.” Aku juga masih ingat kamu, Har. Juga masih ingat
semuanya kok.” Jawaban Ara ini tentu saja mengejutkan kami. Karena bukan hanya
roman mukanya yang terlihat biasa-biasa saja – jauh berbeda dari sebelumnya
saat masih ada ibunya – namun juga kata-katanya yang menyatakan bahwa ia
mengingat semuanya.
“Kalian
pasti berpikir bahwa aku sudah tak punya ingatan tentang teman-temanku dulu
seperti kalian, kan? Aku tahu kok kabar tentang aku yang hilang ingatan.
Kabar itu bukannya salah sama sekali. Aku memang menghilangkan sejumlah
ingatanku. Dan aku memilih melakukannya justru supaya aku tetap waras. Tahukah
kalian bahwa orang seringkali lelah pikiran karena ia ingin mengenang.
Mengingat semuanya. Kenapa tidak kita membiarkan otak kita melupakan apa pun
yang ingin dilupakan. Jika memang otak kita masih mengingat sesuatu yang
sebenarnya tidak ingin kita kenan, itu berart bahwa kejadian itu memiliki
makna. Entah untuk apa, mungkin baru akan ketahuan di kemudian hari,” kata Ara
sambil menyandarkan punggungnya dan menyelonjorkan kakinya. Matanya mengarahkan
ke halaman rumahnya yang luas yang ditumbuhi oleh pohon jambu bol, semak
melati, dan akca piring, pohon manggis,
dan beberapa tanaman perdu lainnya.
Aku
dan Hardi saling melirik. Kami merasa salah tingkah. Dalam hati, aku merasa
konyol karena kulihat tidak ada yang salah pada diri Ara. Meski ucapannya
terdengar mengada-ada dan mengawang-awang soal ingatan, tapi jika dipikir-pikir
sebetulnya benar adanya. Justru dari kata-kata Ara aku mulai berpikir apakah
kewarasan kita ditentukan oleh ingatan? Apakah ketika ingatan hilang, layakkah
seseorang dikatakan tidak waras?
“Hidupku
lebih tenang seperti sekarang ini, Kala. Aku dulu sering terganggu ketika orang
lain merasa gusar ketika kita tidak mengingat mereka. Bahkan aku sendiri pun
demikian. Aku gusar ketika dilupakan. Namun di suatu titik hidupku, aku
berpikir kenapa harus memelihara ingatan jika memang kita tak mampu
menyimpannya.”
Mendengar
perkataannya, aku hanya bisa menunduk dan sesekali melirik Hardi yang kulihat
juga tampak gelisah. Meski perkataannya terkesan filosofis, namun justru di
situlah letak keanehannya. Baik aku maupun Hardi tak pernah mengingat Ara adaah
sosok yang merenungkan peristiwa dengan sebegitu dalamnya. Ara diingatan kami
tak lebih dari anak sekolahan populer yang Cuma sekolah, main-main, dan tak
perlu memikirkan tentang ingatanm kenangan, dan tetek bengek lainnya. Walaupun
kami sadar bahwa kami tak pernah tahu bisa jadi di masa-masa setelah sekolah,
ia entah menemukn pencerahan tentang kehidupan secara filosofis, tapi tetap
saja buat kami sangat aneh jika kami tak menemukan konteks apa pun dari
perkataan Ara.
Seolah
merasakan ketidaknyamanan kami, Ara akhirnya berkata, sering-seringlah main ke
sini selama kalian ada waktu. Tentu saja aku tak bisa menceritakan banyak hal
hanya dari satu kali pertemuan dengan kalian. Lagi pula kita sudah lama tidak
bertemu, kan.”
Saran
Ara ada benarnya juga. Sekaligus menepis sikap canggung kami. Pada akhirnya,
setelah beberapa kali kunjungan, baik bersama Hardi maupun sendirian, aku
akhirya mulai mendapatkan penjelasan yang kususun sendiri dari
potongan-potongan cerita Ara. Ternyata, sejak sekolah, Ara menyimpan
ketertarikan tentang alam berpikir manusia. Ia merasa bahwa kerapuhan manusia
seringkali ditimbulkan oleh pikiran manusia sendiri. Ia mempelajari psikologi
dan sampai pada titik dimana ia lebih ingin berada di rmah dan mencari
teori-teori sendiri tentang ingatan.
Pilihannya
ini tentu saja berisiko. Ia tak bisa membuat orang tuanya memahami, sehingga ia
lebih mencari cara mudah untuk berpura-pura tak waras. Baginya, anggapan orang
lain tak lagi ia pedulikan, karena buatnya, ia lebih peduli untuk membuat
tulisan-tulisan ilmiah tentang cara kerja otak dan memori.
Benar
atau tidaknya cerita Ara ini, ibu Ara sendiri punya versi lain tentang Ara,
Manurut ibunya, Ara menjadi seperti itu karena ia terlampau sedih ketika
tunangannya meninggal bunuh diri pada suatu dini hari setelah membunuh anggota
keluarganaya sendiri. Sejak peristiwa itulah, Ara pulang ke rumah dan
memutuskan untuk tidak waras.
Buatku,
apa pun penyebab Ara menjadi seperti itu, aku lebih memilih menyimpan Ara yang
cantik, populer, kemayu, dan lincah seperti saat aku mengenalnya di sekolah. Karena
seperti halnya Ara, aku juga lebih memilih menggunakan ingatanku untuk
mengenang hal-hal yang menyenangkanku.
http://digital.jawapos.com/
Dewi Ria Utari, pewarta dan penulis fiksi, seni, dan
budaya. Telah menerbitkan empat buku : Kekasih Marionette, The Swan, Rumah
Hujan, dan Di dalam Hutan Entah di Mana.


Komentar
Posting Komentar